[Track 2] Begini Dulu
Dengarkan di: Spotify
Lirik
Verse 1
Katanya jodohku dijaga Tuhan
Makanya jadi burik dulu biar aman
Aku ngakak, tapi dalem juga
Duh, kok relate banget ya…
Verse 2
Sahabatku nyeletuk santai
“Orangnya burik tapi hatinya baik!”
Aku jawab, “yaudah sih gak papa”
Yang penting gak ngantri cinta di depan Alfamart
Pre-Chorus
Di langit tinggi kita becanda
Antara insecure sama drama
Minum air dua botol beres
Padahal hausnya cuma gara-gara refleks
Chorus
Buriknya jodohku, katanya nanti begitu
Tuhan lucu, nulis ceritaku
Ngaca malah ketawa sendiri
Kayak bocah tapi ngomongin takdir
Verse 3
Sahabatku bilang, “nanti anakmu jangan item”
Aku jawab, “yaudah, nanti ku tanning bareng!”
Obrolan absurd di udara
Tapi rasanya hangat, gak ada duanya
Bridge
Kadang hidup tuh lucu
Yang bikin malu malah jadi rindu
Momen receh kayak gini
Entah kenapa selalu abadi
Chorus (Repeat)
Buriknya jodohku, katanya nanti begitu
Tuhan lucu, nulis ceritaku
Ngaca malah ketawa sendiri
Kayak bocah tapi ngomongin takdir
Outro
Bukan cinta, bukan rencana
Cuma candaan, tapi kena di dada
Dan aku sadar gak semua “lucu” itu ringan
Kadang dari tawa, kita sembuh pelan-pelan~
Makna Lagu
“Begini Dulu” adalah lagu yang mengangkat sisi paling manusiawi dari rasa insecure tapi dikemas dengan tawa, candaan, dan kehangatan persahabatan. Lagu ini menggambarkan bagaimana kadang kita membicarakan hal-hal lucu, norak, bahkan absurd, hanya untuk menutupi rasa minder yang sebenarnya cukup dalam.
Namun di balik candaan “burik”, “item”, atau “jodoh dijaga Tuhan”, terselip penerimaan diri yang tumbuh perlahan. Bahwa sebelum menjadi versi terbaik suatu hari nanti, ada fase di mana kita memang “begini dulu”. Belajar menerima kondisi, sambil tetap menertawakan hidup bersama orang-orang yang membuat dunia terasa ringan.
Inspirasi Lirik
Lagu ini ditulis dari kelanjutan percakapan aku dan sahabatku yang terjadi di pesawat. Momen ketika kami merasa tiba-tiba insecure setelah duduk bangku sejeret dengan seorang cowok Korea. Di tengah rasa minder itu, sahabatku justru melempar candaan-candaan absurd yang menghangatkan hati: tentang jodoh yang “dijaga Tuhan”, wajah “burik tapi baik”, sampai becandaan soal anak nanti.
Di balik tawa itu, ada perasaan yang lebih jujur: rasa takut bertemu seseorang yang aku suka, rasa tidak percaya diri ketika membandingkan diri dengan orang lain, dan keraguan yang muncul sebelum momen penting. Namun candaan sahabatku membuat semuanya terasa lebih ringan dan dari situlah muncul kalimat sederhana namun kuat: “begini dulu.”
Credits


Komentar
Posting Komentar